Pada Mulanya Tubagus Pasir dari Banten datang ke daerah Jawa dari pernikahannya mempunyai dua orang anak yaitu:
1) Tubagus Bangin dan
2) Tugabus Rangin
Keduanya telah berkeluarga dan mempunyai anak serta cucu, yaitu:
1. Tubagus Dalas
2. Tubagusai Lurah
3. Tubagus Seno
4. Tubagus Kondar
5. Tubagus Merat
6. Tubagus Daisa
7. Tubagus Arsitem
8. Tubagus Bantarjati
9. Tubagus Panganten (Buntu)
Pada tahun 1410 terjadi peperangan dengan Belanda, pasukan Belanda tersebut dipimpin oleh Jendral Wiliam Deandles di Sumedang, untuk merebut negara indonesia.
Pada mulanya Belanda datang ke Aceh untuk meminta pandangan ke Singa Madura melapor pada Gusti Sinuhun ( Cirebon) yang mempunyai banyak Kolonel. Pada tahun 1411 diadakan tindakan peperangan dan mulai berunding karena negara indonesia digadaikan oleh Gusti Sinuhun selama 60 tahun. Bantarjati ( Cirebon Kulon ) tidak menyetujui hal tersebut , maka mereka mengambil tindakan “lebih baik perang dari pada negara baru digadaikan” tetapi gusti sinuhun terlanjur menandatangani perjanjian yang menyatakan bahwa negara indonesia digadaikan padaBelanda selama 60 tahun. Hingga akhirnya terjadilah perang besar-besaran selama 10 tahun antara Belanda dengan Indonesia.
Perang tersebut dimulai dari Ujung Jaya dan mundur ke Brojol, dan mundur lagi ke Jawura lalu ke Pedahan, mundur lagi ke Pangayongan lalu mundur ke Jawura Mancawura, mundur lagi hingga Tegang Pati. Setelah itu terjadi perang di Bojong Banteng (karena Tubagus Bangin mempunyai kandang Banteng di Bojong) selain itu Tubagus Rangin mempunyai rumah di Karang Panghulu di Jatitujuh hingga terjadi lagi di Panongan dan berlanjut lagi ke Beber, kemudian lari ke Randegan dan berhenti di Wanasalam, setelah itu mundur lagi ke Balida. Dan perang itu berhenti sejenak.
Tak lama kemudian perang berlajut, disana pangeran Kornel berunding dengan Jenderal Kaya Prakoso, Terong Peot, Geusan Ulun, Dan Embah Gorek, Tubagus Prakoso selalu jadi penunggu beringin (bertugas menunggu beringin yang telah di ucapkan saat ditanam sambil berkata “jika pohon beringin itu hijau dan subur maka Sumedang jaya dan jika beringin layu maka Bantarjati kalah”. Hingga akhirnya peperangan mundur sampai Tegal Aron dan disana juga diadakan rundingan untuk perang.
Bantarjati dibangun pada tahun 1420 oleh kerajaan Indra (Indramayu) karena dulu daerah tersebut termasuk daerah Indramayu, bukan ke daerah Majalengka. Sedangkan Majalengka di tarik ke Sugih Mukti dan menjadi kabupaten Majalengka yang tadinya kabupaten Indramayu. Pertama kali berdirinya Desa Bantarjati dipimpin oleh Bapak Kuwu Lapijem.
Ketika dalam sebuah forum musyawarah, semua masyarakat Desa Bantarjati mengikuti musyawarah itu, namun karena banyaknya kelompok-kelompok tertentu yang pro dan kontra dalam sebuah keputusan sehingga menghasilkan perselisihan yang terus menerus. Kemudian pada tahun 1783, bulan Rajab, hari Senin Pukul 09:00. Diputuskanlah bahwa Desa Bantarjati dibagi dua yaitu Bantarjati Lor dan Bantarjati Kidul dengan kesepakatan
1. Balai Desa berada di Bantarjati Kidul, dan
2. Mesjid berada di Bantarjati Lor.
Dahulu Kertajati berada di Bantarjati Lor. Dari pertama berpisahnya Bantarjati ada beberapa pemimpin yang memimpin Desa Bantarjati Lor/Kertajati yaitu :
1. Bapak Kuwu Palis
2. Bapak Kuwu Tarpan
3. Bapak Kuwu Kartimah
4. Bapak Kuwu Ruki
5. Bapak Kuwu Alsiah (1918-1922)
6. Bapak Kuwu Kasim (1922-1924)
7. Bapak Kuwu Wasjem (1924-1928)
8. Bapak Kuwu Sulkinah (1928-1935)
9. Bapak Kuwu Sarimah (1935-1937)
10. Bapak Kuwu Aryem (1937-1947)
11. Bapak Kuwu Uman (1947-1954)
12. Bapak Kuwu Hj. Abdul Gani/Hayat (1954-1977)
Kemudian ketika kepemimpinan Bapak Kuwu Hj. Abdul Gani/Hayat, sekitar tahun 1967-1968 beliau melakukan pemekaran terhadap Desa Bantarjati Lor menjadi Desa Kertajati dan sebuah kecamatan. Sejak berdirinya Desa Kertajati sampai sekarang ada beberapa pemimpin yang mengabdikan dirinya untuk memimpin Desa Kertajati, diantaranya :
1. Bapak Kuwu Hj. Abdul Gani/Hayat (1954-1977)
2. Bapak Kuwu Arbat (1977-1982)
3. Bapak Kuwu Ruman (1982-1989)
4. Bapak Kuwu Taslim (1989-1998)
5. Bapak Kuwu Munaji (1998-2007)
6. Bapak Kuwu Mahpudin, SE (2007-2013)
7. Bapak Kuwu Ajat Sudrajat, S.H.,M.H (2014-sekarang)